Workaholic


saya sudah mengenalnya sejak lama. itulah sebabnya, bila orang menyebut Nia sekarang termasuk wiraswastawan yang berhasil, sedikit pun saya tak terperanjat. Nia patut meraih semua itu. ia seorang pekerja keras, bahkan hampir-hampir dapat dikatakan workaholic, orang yang gila kerja. hal itu tentu saja didukung oleh kemampuan dan semangatnya yang teramat menyala-nyala. bukan tak sering sahabat-sahabatnya mengingatkan agar Nia sedikit mengerem diri. bagaimanapun, begitu selalu nasehat orang, daya tahan seseorang ada batasnya. tetapi, apa mau dikata, dengan kemampuan kerja yang telatif diatas rata-rata serta semangat kerja yang luar biasa, Nia malahan cenderung memborong semua pekerjaan. Bila orang lain dianggapnya tidak becus, maka ia sendirilah yang turun tanga. atau, kalaupun orang lain bisa melakukan ia tetap saja merasa pekerjaan mereka tak sempurna, sehingga ia langsung menanganinya sendiri. padahal, porsi pekerjaan itu tak pantas lagi di tanganinya. kata sebagian bawahannya, Nia sukar sekali mendelegasikan pekerjaanya kepada orang lain.

sebenarnya semua orang tahu Nia adalah orang terampil bekerja dan cakap bekerja. tetapi, bagaimana mungkin mengerjakan beragam pekerjaan seorang diri? berkali-kali bawahannya mengeluhkan hal itu. mereka merasa tidak dipercayai untuk mengerjakan suatu pekerjaan. “masa pekerjaan sekecil itu saja mesti boss yang turun tangan?” keluh mereka. dengan kebiasaannya seperti itu tak heran bila Nia beberapa kali pindah pekerjaan. “saya tak betah bekerja dengan cara seperti yang mereka lakukan lamban dan mengesalkan,” katanya tentang beberapa partner kerjanya.

sekali waktu, ia berselisih pula dengan anak buahnya yang merasa terus menerus ‘dijajah’, terus menerus diomeli karena tidak becus bekerja. kalaupun ada yang cukup baik, si pekerja harus bisa pula mengimbangi kerakusan’ Nia bekerja. tetapi, siapa yang tahan? beralih dari satu perusahaan ke perusahaan lain, menjadi bagian dari kehidupannya, tetapi ya itu tadi, masalah lama muncul lagi. ia mendominasi sekian banyak pekerjaan, lebih dikarenakan ketidakpuasan dan kerakusannya pada pekerjaan, penyakit yang merusak diri dan lingkungannya.

tak banyak mungkin orang yang mempunyai kemampuan seperti Nia. serba bisa dan serba terampil. tetapi, ia sendiri senantiasa dirundung ketidakpuasan. sampai-sampai suatu hati, saya usulkan padanya agar membuat perusahaan sendiri saja. “dengan demikian, kau bisa menjadi majikan sekaligus merangkap karyawan, bahkan loper surat,”kata saya suatu kali, sebenarnya dengan nada bergurau. tetapi setahun kemudian, saya ketahui bahwa ia benar-benar mendirikan perusahaan sendiri, sebuah biro perjalanan dan biro konsultan. “hanya semata-mata bermodalkan semangat,” kata Nia ketika saya datang pada pembukaan perusahaannya. barangkali benar! si workaholic itu memang punya potensi besar untuk merealisasikan semangatnya.

hilangkah kemudaian kebiasaan Nia? tidak juga. bahkan kini semakin menjadi-jadi. karena ia kini memulai kerja dengan modal sendiri, dengan sendirinya Nia tak ingin dana yang ditanamkan itu menjadi sia-sia. ia berkayuh sekuat tenaganya. ia menumpahkan seluruh perhatiannya ke situ. ia tetap saja menborong sekian banyak pekerjaan, demi kekhawatirannya bahwa orang lain tak mampu bekerja seperti dirinya. walau punya beberapa karyawan, hampir-hampir dapat dikatakan bahwa ia tak mendelegasikan pekerjaan dengan sungguh-sungguh.

tak heran bila kehidupan pribadinya pun menjadi sangat terpengaruh. tiga orang anak yang dipunyainya, dapat dikatakan tumbuh di tangan para baby sitter, malahan, seminggu setekag melahirkan bayinya yang terkecil, ia langsung ngebut lagi dengan pekerjaannya. hilir mudik Jakarta – Medan – Surabaya, serta beberapa kota besar lainnya, untuk berunding dan melakukan transaksi bisnis. istirahat seperti hal yang tabu bagi dirinya.

tetapi, sekuat-kuatnya fisik seseorang, tetap saja kemampuan orang ada batasnya. terakhir, ketika bertemu dengan Nia, setelah beberapa bulan tak saling bersua, si workaholic itu tampak jauh lebih kurus. wajahnya letih. “saya baru sembuh dari sakit keras.” katanya sambil memegang perut kirinya. ia lalu menceritakan perihal penyakitnya. “saya sakit lever,”katanya lirih. sekaranglah, menurutnya, baru disadarinya berapa selama ini ia telah melakukan sesuatu di luar batas kemampuan fisiknya. bagi perusahaan, begitu menurut pengakuan Nia sendiri, sikapnya selama ini bukan tak ada dampak negatifnya. hampir sebagian besar karyawannya menjadi ragu-ragu mengabil tindakan, bahkan cenderung mempunyai ketergantungan yang besar pada sang boss. “ini tentu gara-ara sikap saya selama ini. mereka tak pernah mendapat kesempatan penuh. juga merasa takut disalahkan,” kata Nia kepada saya.

dengan keadaan fisik seperti sekarang tentu Nia tidak dapat terlalu ngoyo seperti waktu-waktu sebelumnya. ia harus membatasi diri,, kalau tidak mau mati muda. pekerjaan-pekerjaan harus di delegasikan dan diserahkannya kepada beberapa staffnya, walau tetap dalam bimbingannya. ada hal lain. dengan membatasi diri, ia pun dapat membagi perhatiannya pada yang lain, termasuk kepada anak-anak dan keluarganya. “sekarang, baru saya sadari bahwa segala sesuatunya itu ada porsi dan takarnnya. saya telah memberi porsi teramat besar pada pekerjaan, tetapi mengabaikan yang lain,”begitu pengakuan Nia.

ada hal yang menggembirakan. kendati Nia tidak lagi memborong seluruh pekerjaannya, termasuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang tidak semestinya ditanganinya lagi, toh perusahaan yang dipimpinnya tetap berjalan dengan baik. para karyawan justru merasa dimotifasi untuk berbuat yang terbaik, lewat kepercayaan yang telah diberikan Nia. sesuatu yang hampir-hampir tak terlihat selama ini.

sifat kecanduan kerja ini banyak sekali menghinggapi para pengusaha muda yang ingin meraup keuntungan sebanyak-banyaknya lewat usaha bisnisnya.

mereka merasa diri begitu indispensible, seakan-akan kalau bukan mereka yang mengerjakan, pekerjaan itu tidak akan sukses. padahal nobody is indispensible. tidak seorang pun mutlak dibutuhkan, seseorang selalu dapat diganti.

sumber :

Cermin Diri

membina dan melestarikan citra wanita indonesia

Mien R. Uno

hal 145-149

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s